Tuesday, 10 June 2014

FATAMORGANA HARAPAN



FATAMORGANA HARAPAN

Ku tatap bulan purnama
Terbayang-bayang seandainya ku dapat terbang kesana
Pasti kan ku peluk sinarnya
Kan ku gapai cahyanya
Dan kan ku rengkuh gelimang kilauannya
Semua itu hanyalah fatamorgana belaka…
Mungkin hanya kesilapan yang ku dapat
Memang benar sebuah kata
Jika burung terbang dengan sayap
Maka manusia terbang dengan angan
Di malam ini aku terbang
Menggapai bulan di langit
Namun hanya angan-angan yang ku dapati
Tak kan sampai selamanya aku menggapai bulan di atas sana
Dalam pekat malamku
Sayup-sayup mata ini melihat
Kemegahan sinar rembulan yang ku puja
Begitu indah sinarnya
            Seandainya sinar itu ada pada diriku
            Pasti kan kuterangi seluruh sisi-sisiku
            Sayangnya hanyalah fatamorgana jiwa yang aku punya
            Tak hayal dan tak mungkin seorang hamba nista
            Nan banyak bebatuan angkara dalam jiwa
            Mendapat sinaran cahya
Dengan melihat aku berharap
Apa yang sudah ku azam kan ku gapai dengan senyumku
Dan cahya yang menyinari seluruh alam

Sahabat



Sahabat
Apakah makna kata sahabat itu?
Siapakah orang yang pantas ku panggil sahabat?
Pantaskah aku ini memiliki sahabat?
Hidupku sunyi, sepi tanpa hadirmu di sisihku
            Di saat aku tenggelam dalam lautan kesedihan
            Kau datang memecah kesunyian yang ku rasakan
            Tapi,di saat kau membutuhkan ku
            Aku malah menghindar tak tau arah yang di tuju
Berjuta – juta keranjang kegembiraan telah kau suguhkan pada ku
Tapi apa yang ku berikan?
Kesedihan dan hanya kesedihan yang aku persembakan pada mu
Maafkan aku sahabat........

Mabuk cinta



Mabuk cinta
Di saat termenung dalam kesendirian
Di bawah temarangnya cahaya rembulan
Bayanganmu datang tanpa ku undang
Sehingga membuat kalbuku semakin gersang
            Aku tak tahu apa yang ku rasakan
Tak tahu kemana harus kucurahkan
Perasaan yang begitu mendalam
Tak berdaya oleh sengatan cinta yang mencekan
Inikah yang di namakan cinta?
Tapi cinta yang mana?
Cinta yang akan membuat kita bahagia
Ataukah cinta yang akan membutakan jiwa
Dan menjadikan hidup semakin tak berguna

puisi SESALAN KEKOSONGAN



SESALAN KEKOSONGAN

Hitam pekatku semakin suram
Hatiku jurang harapan tak terukur dalamnya
Dalam…
Sungguh dalam dan gelap
Hingga mata hatipun tak dapat melihat
            Itulah yang aku rasakan
            Ketika aku sadari
            Tiada erti dalam hidupku
            Tiada tahu dalam lakuku
            Dan tiada adab dalam santunku
Sebagai upaya menggapai sang surya
Tangkaskan jurang yang kososng dan hampa
Dengan isi, erti, budi, dan adab
Niscaya kan tenteram dan benderanglah
Jurang yang dahulu kosong
Kini telah terisi
            Meski cahayaku tak Nampak
            Namun aku harap bisa menyinari diri
            Dengan erti ku dapat melihat
            Dengan tahu, ku mendapat sinar
            Dengan adab ku dapat merendah
Terima kasih ku ungkapkan
Meski dalam jiwa ini masih belum puas
Akan cahaya yang ku capai
Namun sesalku bangkit
Ketika ku sadari
Betapa tersiksa hidup dalam kegelapan jurang
Tanpa cahaya, sinar, dan surya